Senin, 23 April 2012

Ektasi meningkatkan kemampuan sosialisasi


New York, Ekstasi memberikan efek gembira dan rasa nyaman bagi si pemakainya, karena obat ini meningkatkan produksi hormon oksitosin, yaitu hormon yang menenangkan dan mengatasi rasa gugup. Penemuan terbaru ekstasi bisa meningkatkan kemampuan sosialisasi.

Psikolog dari Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City  menemukan ekstasi atau obat MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) bisa membantu orang lebih mudah melakukan koneksi sosial pada orang lain.


Obat MDMA ini dapat meningkatkan kadar keramahan dan cinta, sehingga ada kemungkinan bisa digunakan sebagai terapi untuk meningkatkan interaksi sosial. Meskipun hubungan tersebut masih bersifat sementara atau bukan hubungan yang mendalam. Hasil temuan ini telah diterbitkan dalam Biological Psychiatry edisi 15 Desember 2010.

"Temuan ini menunjukkan MDMA dapat meningkatkan sosialisasi, tapi tidak berarti dapat meningkatkan empati," ungkap Gillinder Bedi, asisten profesor psikologi klinis di Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City, seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (22/12/2010).

Pada bulan Juli 2010, studi lain melaporkan bahwa MDMA mungkin berguna dalam mengobati gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD). Hal ini berdasarkan dampak dari obat yang dapat mengatasi kesedihan dengan membantu mengendalikan ketakutan tanpa membuat orang tersebut merasa mati rasa terhadap emosionalnya.

Ekstasi sering digunakan kalangan 'club drug' saat menikmati hiburan malam hari. Obat ini sering disalahgunakan dengan cara dikombinasikan dengan alkohol, sehingga memiliki efek yang dapat berpotensi mengancam nyawa.

Bedi dan tim menyarankan efek positif dari ekstasi ini bisa membantu orang meningkatkan keterampilan sosialnya dengan melindungi dirinya dari emosi negatif orang lain. Selain itu kemungkinan bisa membantu orang yang PTSD, autisme, skizofrenia atau gangguan kepribadian antisosial untuk mengatasi kesulitan emosional sosialnya.

"Meski demikian diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengontrolan MDMA untuk menentukan apakah obat ini bisa dengan aman dan efektif menjadi obat psikoterapi untuk beberapa kondisi," ungkap Bedi.

Dr. Michael Mithoefer yang melakukan studi MDMA dan PTSD sebelumnya menuturkan sangat penting untuk menyelidiki terapi baru yang potensial. Dan hal ini tidak boleh dicegah hanya karena ada sesuatu yang disalahgunakan.

"Banyak hal yang bisa mengancam jiwa atau berbahaya jika digunakan secara tidak benar. Tapi jika digunakan dengan bijaksana dan benar, maka ada banyak hal yang juga bisa membantu," ungkap Dr Mithoef

dikutip dari detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar